Twitter telah digunakan untuk pengguna internet untuk saling berbagi dan mengekspresikan segala hal. Namun di sisi lain, situs mikroblog itu, ternyata, dianggap bisa membantu pengguna internet untuk menjadi penulis. 

Hal itu disampaikan Steven Pinker, ilmuwan linguistik dan kognitif dan pakar psikologi Universitas Oxford, Inggris.

"Saya banyak mendapatkan pertanyaan tentang apakah teknologi membuat kita jadi penulis yang buruk. Tapi saya menjawab tidak," sanggah Pinker dilansir Guardian, Senin 10 November 2014. 

Ia bahkan mempertanyakan orang yang beranggapan menggunakan Twitter membuat pengguna kehilangan kemampuan menulis. Menurutnya, anggapan ini adalah hal yang lucu. 

"Jika Anda menulis dalam 140 karakter tiba-tiba Anda tak kehilangan kemampuan menulis. Seolah-olah otak hanya memiliki ruang untuk satu jenis tulisan," dalihnya.

Pinker membantah anggapan itu. Justru sebaliknya menulis di Twitter merupakan salah satu jalan untuk menjadi penulis. 

"Jika Anda menganggapnya sebagai sebuah tantangan, menulis di Twitter bisa mengasah kemampuan Anda sebagai penulis," kata dia. 

Pakar kelahiran 1954 itu mengatakan dalam aturan pokok untuk menjadi penulis, seseorang harus pandai memilah kata-kata yang tak perlu dalam sebuah karyanya. Dan Twitter menurutnya menjalankan standar itu. 

"Twitter memaksa Anda untuk tidak menggunakan kata-kata yang tak perlu," kata dia merujuk pada pembatasan ruang status 140 karakter. 

Dalam kesempatan itu, Pinker menolak anggapan ahli saraf yang mengatakan situs jejaring sosial bisa merusak otak anak. 

"Tak ada bukti soal itu. Mengatakan situs sosial media mempengaruhi otak membuat terdengar lebih dramatis," kata dia. (ita)



Monday, November 10, 2014







« Back