Jakarta - Kedatangan pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg disambut sorak-sorai di Indonesia. Namun aturan soal pembangunan data center yang harus dilakukan Facebook, sayangnya tak dibahas sama sekali.

Menurut Dimitri Mahayana, Chairman Sharing Vision, agenda utama yang harus diajukan Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kominfo adalah memastikan bahwa data center Facebook dan WhatsApp bisa diletakkan dan dioperasikan di Indonesia. 

Terlebih Indonesia merupakan salah satu pasar Facebook terbesar. Dan yang paling penting, ini sesuai dengan amanat UU ITE 2008 dan PP PSTE 2012.

"Tentu ini menjadi lebih mudah bila pihak yang berwewenang berdialog langsung dengan founder dan sekaligus pimpinan Facebook. Menurut saya, dialog yang win-win dengan mengedepankan kepentingan Facebook juga di samping kepentingan nasional NKRI (kedaulatan informasi dll), akan memiliki peluang yang amat tinggi untuk berhasil," jelas Dimitri. 

Artinya, akan jadi hal yang sangat disayangkan jika kedatangan bos besar Facebook di Indonesia ini tidak dimanfaatkan oleh pihak terkait -- seperti Kominfo -- untuk merajut misi diplomasi sekaligus menegaskan aturan hukum di Indonesia.

Toh, pada dasarnya hal ini juga memiliki benefit bagi Facebook sendiri. Dimitri memaparkan, contoh dari kepentingan Facebook adalah availability data center, kedekatan dengan pelanggan dengan latency yang amat kecil, serta jaminan kualitas layanan (QoS) end to end yang memberikan user experience terbaik pada pengguna Facebook di Indonesia.

Apalagi kehadiran Mark Zuckerberg bisa ditafsirkan sebagai beberapa hal berikut:

  1. Pasar Indonesia saat ini dan ke depan amat potensial bagi Facebook.
  2. Mark Zuckerberg juga merasa tidak canggung dan mengunjungi langsung Presiden terpilih, Bpk. Ir. H. Joko Widodo. Ini bisa ditafsirkan sebagai preferensi atau dukungan langsung atau tidak langsung terhadap kepemimpinan beliau.

 

"Selain eksistensi data center di daerah hukum NKRI, banyak yang bisa diperoleh pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia dari kerjasama dengan Facebook," lanjut Dimitri. 

Misalnya, keterlindungan dari program spionase global. Kemudian, penggunaan data-data Facebook untuk peningkatan keamanan informasi nasional dan melawan cyber crime, serta untuk analisis big data berbagai hal di Indonesia.

"Jadi, bila dia (Zuckerberg-red.) sudah diajak Jokowi blusukan di pasar nyata Indonesia, betapa mantap bila Pak Jokowi diajak Mark Zuckerberg blusukan di dunia cyber Facebook dan Whatsapp?" lanjut dosen ITB itu.

"Dan lebih mantap lagi bila setelah itu ada suatu dialog yang win-win yang mempertemukan kepentingan bangsa Indonesia dengan salah satu penyedia layanan sosmed dan cyber terbesar untuk bangsa ini, yaitu Facebook grup," Dimitri menandaskan.



Wednesday, October 15, 2014







« Back