1 dari 5 Wanita Bekerja di Perusahaan IT

By:

Sebuah riset dari Microsoft Asia di awal tahun ini menemukan hanya satu dari lima perempuan dunia yang bekerja di bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics). Angka tersebut dinilai sangat timpang ketimbang jenis pekerjaan lain.

Dari hasil riset yang sama, Microsoft Asia memperoleh data bahwa perempuan lebih banyak berkecimpung di dunia non-teknologi daripada pria. Tercatat untuk bidang teknologi, hanya 20 persen bidang pekerjaan itu dihuni oleh perempuan. Padahal di bidang non-teknologi, perempuan lebih banyak dihuni kaum hawa dengan pencapaian 52 persen.

Minimnya partisipasi perempuan di dunia STEM, tak lepas dari anggapan kuno yang masih hinggap di masyarakat.

Hanifah Ambadar adalah salah satu contohnya. Hanifah, pendiri sekaligus CEO Female Daily Network, telah lama berkecimpung di dunia tulis-menulis di internet. Keputusannya mencari nafkah di bidang itu sempat menuai kritik dari orang tuanya.

“Dulu sempat ditanya apa itu startup, diminta cari pekerjaan yang lebih jelas kata mereka” kenang Hanifah dalam peringatan Hari Kartini oleh Microsoft di kantor pusatnya di Bursa Efek Jakarta, Jakarta, Jumat (21/4).

Stereotipe seperti itu bukan hal asing di lingkungan Hanifah. Masalah seperti juga dialami oleh perempuan di belahan dunia lain.

Jezzie Setiawan, pendiri dan CEO dari GandengTangan.org, sama seperti Hanifah. Ia termasuk 20 persen perempuan dari hasil riset Microsoft tadi yang berkecimpung di bidang STEM. Akibat dari minimnya partisipasi itu, perempuan seperti Jezzie harus berusaha lebih keras ketimbang pria yang seprofesi dengannya.

Sehari-hari Jezzie harus berhadapan dengan banyak programmer yang didominasi oleh pria. Karena merasa perempuan sendiri, tak jarang Jezzie berusaha berpikir seperti mereka.

“Kadang sampai buka Google untuk tahu cara berbicara dengan programmer,” ungkap Jezzie disertai tawa.

Bidang STEM memang kerap dianggap sebagai lingkungan maskulin. Hal ini diperkuat oleh temuan bahwa hanya ada 3 dari 10 peneliti yang bergelut di bidang STEM. Namun hal itu menurut Hanifah dan Jezzie bukan penghambat utama.

Sebaliknya, Linda Dwiyanti, Consumer Devices Sales Director Microsoft Indonesia, justru menyambut baik hasil riset itu. Menurutnya hal itu ia anggap sebagai peluang di masa depan.

“Kita justru makin ingin meningkatkan komitmen Microsoft Indonesia untuk mendukung perempuan bergabung dalam industri STEM,” pungkas Linda. (tyo)